Tuesday, May 9, 2017

BERBEDA BUKAN BERARTI MUSUH

                                          BERBEDA BUKAN BERARTI MUSUH

                                                          Oleh: Yohanes Hanoe


                                   

Cengkraman angin disiang itu, menghantam pepohonan menggoyangkan ranting-rantingnya, terbawa oleh tempaan angin dari lereng bukit membuat dedaunan kering berjatuhan. Ada yang tertiup jauh dari pohonnya. Sampah-sampah berserakan, kantong kresek ikut terbawa oleh arusnya angin. Di tengah aktivitas mahasiswa-mahasiswi itu, yang ramai di kampus mungil ini yang hampir menampung beribuh orang dari Sabang sampai Marauke, yang berlatar belakang perbedaan, agama, ras, suku, bahasa, dan budaya. Yang bernaung dibawah payung beralmamater ungu ini, yang dapat disebut sebagai miniaturnya bangsa Indonesia.

Hari itu, terlihat kumpulan awan hitam dia atas kepala, menutupi birunya langit yang mengekspresikan wajah yang muram bertanda tidak bersahabat. Cuaca yang mendung itu seakan membuat hati ini mendung. Aku yang baru tercatat sebagai mahasiswa baru, diam terpaku, penuh bisu . aku nampak dengan wajah yang begitu polos, penuh keraguan. Sifat-sifatku, terlihat jelas bahwa mungkin aku adalah seorang yang berasal dari pedalaman, yang tentu pristiwa, aktivitas dan kegiatan lainnya sangatlah berbeda dengan tempat yang kudiami sekarang ini. Belum lagi dengan warna kulitku yang agak kehitaman, rambutku yang kriting, dan dialek yang begitu ketimuran.

Di bawah lorong kecil itu, tepat diatas bangku panjang, kuletakan tubuhku itu. bola mataku terus melotot memantau suasana di kampus itu. hembusan angin begitu keras, mengusik dikalbu, tertusuk masuk kesum-sum tulang, terasa betul aliran darah dalam nadi membeku. Terdengar simponi alunan musik di radio kampus, menggerakan saluran pendengaranku seakan membuat suasana semakin ramai. Di lorong itu, adalah salah satu jalur yang sering dilintasi oleh mahasiswa-mahasiswi itu. aku hanya bisa mengamati saja. Dalam benakku ini muncul pertanyaan.

“ mungkin ini yang biasa di sebut-sebut orang, tentang perkuliahan. sangat berbedah jauh dengan pristiwa sewktu SMU, yang semua serba terkontrol dari bapa-ibu guru. tapi ini tidak.” Terlewatkannya pertanyaan-pertanyaan itu. aku dikejutkan oleh fian temanku sewaktu ORDIK.

“ brow…! Lagi ngapain ya? Kok…bengong?” katanya pendek.

“ tidak teman. aku lagi bersantai-santai mengamati aktivitas di kampus” sahutku dengan imbangan senyiuman yang hangat, kami mulai dengan percakapan kecil itu. Fian adalah seorang mahasiswa yang berasal dari jogja, orangnya ramah, murah senyium, dan bertutur kata halus.

“ kamu sendiri ngapain di sini” tanyaku, dengan bergeser kesamping, memberi tempat untuk duduk

. “ ah…biasa teman. lagi jalan-jalan, sekalian lihat ruangan perkuliahan.” Jawabnya, dengan ritma nada yang halus. Dialog kami apa adanya, maklum belum dibekali dengan materi perkuliahan, sehingga tidak ada pembahasan yang menarik untuk didiskusikan.

Angin masih begitu kuat tiupannya, hingga mendinginkan badan ini. Aku dan fian msih terpaku dibangku itu. kami tak menghiraukan desasan angin itu. kami keasikan bercerita tentang kedaerahan kami. Aku bercerita tentang suasana, dan budaya yang ada di daerahku, yang terkenal dengan harum kayu cendananya. Begitu juga untuk fian, kami saling mengisih satu dengan yang lain. Sedangkan mahasiswa-mahasiswi itu, berlalu-lalang, menjalankan aktivitasnya yang berbeda-beda itu. ada yang terlihat berlangkah dengan tergesah-gesah, memasuki rungan perkuliahan, karena terlambat, ada yang bercerita, ada yang mengotak-atik getzetnya. Begitulah situasi saat itu.

Dari samping gedung rektorat, muncul Marten dengan berlangkah mendekati kami. Acuan tangannya terlihat sembari memberikan isyarat untuk bergabung bersama kami. Senyiumannya begitu kentara saat mendekati kami. Ia menyodorkan tangan kanannya utuk bersalaman.

“ pace marten kamu dari mana?” tanyaku dengan memukulnya di lengan kirinya penuh bicanda. Marten ini adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari pulau cendrawasi, ia adalah teman kelasku, ia sangat lucu, mudah diajak bicanda, terkadang membuat orang-orang didekatnya tertawa terbahak-bahak dengan cerita mopnya yang lucu.

“ baru teman berdua ada buat apa to!” jawabnya setelah ia duduk.

“ ah…pace ko tidak lihat kah kita ada duduk-duduk bercerita”. Lanjutku.

“ aha…kamu berdua tipu-tipui ni! stop tipu-tipu, pasti dari tadi teman berdua sedang melihat cewe-cewe cantik itu to..!” katanya lagi dengan dialeknya yang kental, sambil menunjukan tangannya kecewe-cewe cantik itu, yang tempat duduknya berhadapan dengan kami. Ucapan-ucapan Marten mengajak kami untuk bercanda.

“ nggaklah Marten kita lagi cerita ini.” Lanjut fian untuk meyakinkan Marten.

“ kalau marten sendiri dari mana, ko muncul dari samping rektorat?” tanyaku sekedar mencari tahu saja

. “ beegini to teman aku baru dari bendehara kampus, konsultasi” jawabnya, kami berbasah-basih, tertawa lebar, bercanda, saling memotivasi satu dengan yang lain.

Hidup in memang harus saling memiliki, rasa untuk bersama, bersatu, menghargai, menerima perbedaan, dan melengkapi satu dengan yang lain.

“ tidak seruh kalau kita cuman berdiam di tempat ini. Bagaimana kita ke kantin saja, mungkin disana kita dapat inspirasi baru” aku mengajak mereka dengan mataku tertujuh pada mereka.

“ ayo..ke kantin saja.” Lanjutku.

Langit masih terselimuti dengan awan hitam kami bangkit berdiri dan berlangkah meninggalkan lorong kecil itu, bangku yang tadi kami tempati, terlihat kesepihan. Ayunan kaki dan tangan kami serentak menuju kantin kecil yang letaknya dibelakang kampus. Kantin ini banyak dikunjungi mahasiswa-mahasiswi, tempatnya bersih, aman dan tenang. kursi-kursi dan meja tertata rapih, dengan hisan ukiran yang unik dan menarik, membuat mata setiap pengunjung menjadi betah. Hidangan, makanan dan minuman beraneka ragam dengan rasa yang berbeda pula. Harganya murah sesuai tarif masiswa. Makanya tak heran kantin ini tak pernah kesepian. Kantin marhaen namanya, yang biasa disebut-sebut oleh mahasiswa-mahsiswi di kampus ungu itu. marhaen sengaja diberinama oleh pemilik kantin, yang konon terdapat seorang petani miskin yang bernama marhaen. Petani ini mempunyai ladang dan sawah, alat produksi berupa cangkul, dan menggarap sawahnya sendiri namun, kehidupan marhaen ini tidak sejahtera.

Marhaen ini setiap hari bekerja namun ditindas dan dihisap oleh parah penjajah, hampir sebagian penghasilannya diserahkan kepada mereka yang dianggap hormat. Alasan utama pemilik kantin ini juga, bahwa dulu semasa mudanya ia bekerja di sebuah perusahan yang besar, selama tiga tahun namun upahnya tak sebanding apa yang ia kerjakan. Banyak gajinya yang terpotong setiap bulan, dengan alasan yang tak jelas dari perusahaan itu. dengan sisa gajinya yang ia dapat selama kerja, maka muncul pemikiran untuk berwirausaha. Inisiatif ini mendorongnya agar kedepan tak terjadi lagi hal yang sama seperti ceritanya yang lalu itu.

Kami menuju meja yang paling pojok, dan menempatinya. Marten berdiri dan berjalan kedalam untuk memesan minuman.

“ pace berdua pesan minuman apa?” tanya marten sebelum mendekati meja kasir.

“ minum kopi hitam saja” kataku.

“ iya minum kopi saja , biar mengimbangi dingin ini.” Lanjut fian.

“ ok-ok, biar semuanya kopi hitam saja, agar kompak kita.” Jawab marten. Sesudah mengorder minuman kembali dan melanjutkan cerita kami.

Bunyi guntur berdentum, silih berganti setelah sambaran kilat berlalu. Tetesan air hujan mulaih berjatuhan dimana-mana, membasahi bumi. Menyirami pohon-pohon, bunga, dan rumput hijau. Seakan mereka terlihat bahagia berlonjat-lonjatan menerima datangnya hujan, yang sekian hari mereka diresahkan dengan panasnya matahari. Hujan kali ini bukan saja menyegarkaan mereka namun , juga menyirami rasa kebersamaan kami, rasa solidaritas, persaudaraan, yang baruh kami tumbuhkan itu. memang kami berlatar belakang perbedaan namun perbedaan itu bukan menajadi suatu sandungan untuk kami.

“ misi ya mas ini pesanannya tadi.” Kata pelayan itu, dengan nada suara yang lembut, bersampul senyiuman yang tulus, menaklukan dentuman guntur, sambaran kilat, dan derasnya hujan .

“ makasih ya mba…!” respon kami kompak dalam satu ketukan.

“ kita minum air yang hangus ya” kata marten, sengaja mengeluarkan unek-uneknya.

“ air hangus bagaimana marten”. Sambungku.

“ ko tidak tahu to, ini airnya hitam, baru panas lagi, kayak kita biasa masak nasi ditungku yang buat nasi jadi hangus”.

“ ah pace pikir ini masak pake tungku kah ini masak airnya pake gas.” Tuturku. Kami semua yang ada tertawa riang.

“ kamu aneh-aneh ya marten”. Lanjut fian.

Dingin di saat itu makin menjadi, sementara hujannya juga belum redah. Kami semua menyelabui dingin itu, dengan kopi hitam, dengan sebatang rokok, sehingga menjadikan suasana tetap hangat, asap rokok yang kami tarik berkepul-kepul, memenuhi rungan itu.

“ hallo boleh kami bergabung” kata yogi dan siti menghampiri tempat kami bercerita itu.

“ monggo” tutur fian.

“ nama ku yogi, dan ini siti” kata yogi memperkenalkan diri, dengan berjabatangan. Perkenalan singkat berlalu, kini kami menjadi lima orang.

“ yogi mahasiswa lama di sina ya?” tanya marten.

“ tidak! Aku mahasiswa baru disini. Kalau kamu?” sahutnya.

“ ah berarti kita sama mahasiswa baru disini”.

“ kalau siti sendiri?”

“ aku juga mahasiswi baru. Aku dan yogi satu program studi ilmu administrasi negara. Kalau teman-teman program studi apa?”. Jawab siti.

“ aku, fian dan john, program studi ilmu komunikasi.” Jawab marten.

“ hhhhhmmmpppt… kita ini satu rumah ya , tapi bedah kamar.” Sambungku setelah mereka berhenti bercakap.

“ maksudnya kita satu fakultas ilmu sosial dan ilmu politik” lanjutku, dengan penjelasan singkat.

Mulai saat itu hubungan kami semakin akrab. Percakapan kami begitu seruh dengan masing-masing orang menceritakan kedaerahannya. aku yang pertama mulai menceritakan suasana daerahku, menyeringkan tentang kekayaan alam, tempat tempat wisata yang indah, makanan khas timor, tentang adat istiadat, bahasa yang beragam, dan masyarakat yang heterogen. Aku juga menceritakan tentang komodo reptil terbesar di muka bumi, dan danau dengan tiga warana yang mempesona. Marten juga tak kalah menceritakan kekayaan alam dan pariwisata yang indah, budaya, dan tentang tambang emas yang terbesar didunia, katanya juga mengajak kami agar bisa berkunjung-kunjung ke daerahnya, kepulau candrawasi tiu. Sedangkan fian juga menceritakan tentang budaya, makanan khas daerahnya dan tentang Kraton. Yogi mengisahakan suasana yang ada di kalimantan, hutannya yang luas, budaya dan suku dayak. Sedangkan sita juga mengutarakan keindahan alam danau toba, makanan khasnya dan suasana kehidupan di sumtera.

Hujan mulai redah. cakrawala mulai terang, dan aktivitas lainnya mulaih terlihat kembali. kami yang keasykan bercerita, dengan kekayaan alam, budaya, tempat wisata, dan bahasa daerah yang beragam. Seakan membuat hati kami terkagum-kagum, dengan semua yang ada di bumi pertiwi Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke yang beragam dengan macam-macam perbedaan yang unik dan menawan.

“ Indonesia sungguh luar biasa.” Tukas fian.

“ ya, itulah negeri kita.” Jawab sita.

Hidup itu, tak selamanya harus sendiri-sendiri. Hidup ini kita membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Tanpa orang lain kita bukanlah siapa-siapa. Hidup itu akan indah seperti pelangi, kalau dilatarbelakangi oleh perbedaan. Perbedaan bukanlah salah satu masalah yang besar, jika kita menyesuaikannya.

Setelah kami saling berbagi cerita, kami mengerti akan apa arti kebersamaan, yag tak membedakan satu dengan yang lain. Cinta dan kasih sayang mulai tertanam setelah saling menerima perbedaan kami.

“ harus bangga menjadi seorang anak bangsa yang mau menerima perbedaan.” Tukasku.

“ ia kita-kita inilah yang sebagai cermin bangsa indonesia. Coba kamu lihat. Aku dari Sumatera, fian dari jawa, yogi dari kalimantan, john dari NTT, dan marten dari Papua.” Lanjut sita, membakar semangat kami.

“ coba teman-teman lihat pajangan burung garuda di atas sana, begitu gagah, perkasa mencengkram tulisan bhineka tunggal ika, didanya terpampang panacasila, yang didalamnya mengandung nilai luhur kita. Sungguh luar biasa. Berdosa kita jika kita mengkhianatinya” tukas yogi dengan menunjukan tangan keatas dinding kantin itu, yang tergantungkan lambang burung garuda.

“ sayang, akhir-akhir ini, banyak orang hanya ingin mementingkan diri sendiri, tidak mau untuk menerima orang lain sebagai saudaranya” kataku, dengan menatapi mereka satu persatu.

“ kita harus bangga, bahawa pada waktu ini kita bisa bersama-sama, bercerita, saling memotivasi. Aku pikir seharusnya kita-kita inilah yang bisa merubah paradigma orang-orang yang memang egois.” Lanjut fian.

“ ah itu, bagus. Aku sih setuju dengan teman kita fian , kitakan tulang punggung bangsa ini to, yang pake bahasa krennya agent of hanger.”kata marten dengan membuat komodi. Kami semua tertawa lepas, sampai mengganggu orang-orang yang duduk disekitar kantin itu.

“ agent of hanger bagaimana to pace marten, itu salah” tuturku.

“ trus bagaimana to teman.”

“ agent of change” kata fian, yang setengah katawa.

Dari saat itu kami berniat untuk menjaga satu dengan yang lain, mengerjakan tugas bersama, dan tentu saling mendukung satu sama lain. Tak ada kata mengejek diantara kami, tak ada kata irih, di hati kami, sebagai mahasiswa yang baru di kampus ungu itu juga kami telah berkomitmen bersama unutk menjaga kehormatan dari setiap dareah kami, yang berbeda, menunjukan persahabatan kami ditengah-tengah mahasiswa-mahasiswi di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyrakat. Bagi kami berbeda bukan berarti musuh.





No comments:

Post a Comment